Skip to main content

Posts

Buka Puasa

Ketika aku sedang memasak untuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa. "Ibu, udah maghrib!" Adek berteriak dari kamar. "Ah, masa dek? Baru jam segini?" "Iya, di Jogja." Gubrak, kena lagi deh 😒

Mirip Ibu

Suatu malam menjelang tidur "Adek ini mirip ayah (tingkahnya) waktu masih kecil," kata Ayah. "Enggak, Adek mirip Ibu (wajahnya)," jawab Adek tegas. "Kakak tuh yang mirip ayah." "Iya deh..." Ayahnya menyerah.

Calon Presiden

"Sepertinya semua nggak ada yang cocok jadi capres deh," Kakak sepertinya mengomentari berita yang sedang hangat di televisi. Aku mendengarnya dari kamar sebelah. "Kenapa, Kak?" Tanya Adek. "Nggak tahu ya, kayaknya cuma satu aja yang cocok, Surya Paloh. Kayaknya orangnya wise." "Kalau Jokowi?" "Ehm, kurang cocok." "Prabowo?" "Enggak juga." "Rhoma Irama aja, Kak. Adek pilih Rhoma Irama." Adek terdengar bersemangat. "Itu sih terserah Adek, bebas aja kok Adek mau pilih yang mana." Hehehe, pembicaraan anak-anak selalu saja menarik dan lucu.

Emang Bisa?

"Kak, lagi ngapain nak?" Tanyaku kepada Salma yang sedang berada di ruang sebelah. "Lagi ngerjain Bahasa Indonesia sambil baca komik, Bu." Hah, emang bisa ya begitu? #Bingung

Adek Butuh Cokelat

"Ibu, ada cokelat nggak?" Tanya Adek sambil membetulkan mainan kayunya. "Buat apa, nak?" Aku balik bertanya. "Buat dimakanlah, biar nggak stress." "Iiiih, Adeek!" Kakak sewot. "Stress apaan sih? Orang dari tadi main mulu..." "Iya, tahuuu..." Seperti biasa tidak ada yang mau mengalah. "Kakak sih nggak baca bukunya." Anak-anak, anak-anak, ada-ada saja...

B*** S***

I talk no bull shit and I take no bull shit PS: Don't talk, don't tweet or updating your status on Facebook when you're angry, just blogging ;) posted from Bloggeroid

I Need My Father

Aku rindu ayahku, sebenarnya aku ingin meneleponnya tapi aku tahu we will end up crying. Jika aku sedang menghadapi masalah, aku selalu mengingatnya, mengingat nasihat-nasihatnya. Ayah seorang yang penyayang dan tidak pernah pilih kasih. Baik kepada anak-anak, cucu-cucu juga menantu-menantunya. Jika aku sedang bermasalah dengan suamiku, tidak pernah aku mendengar ayah lebih memihakku dibanding dengan suamiku. Hal itu terkadang membuatku kesal, karena tentu saja aku berharap ayah lebih berpihak kepadaku, juga karena aku merasa suamiku belum cukup berusaha untuk membalas kebaikan ayah kepadanya, juga kepada kami, istri dan anak-anaknya. Tapi aku tahu ayah pasti tidak mengharapkan balasan apapun dari kami. Jika kami menjadi orang-orang taat kepada Allah, itulah pastinya balasan jasa yang lunas dan kebanggaan bagi ayah. Tapi justru karena sikapnya yang tidak pilih kasih itulah, aku semakin merasa bangga dan bersyukur kepada Allah. I can see the quality of his. Itulah cara ayah menyayan...