Skip to main content

Upik Abu

Diantara anak-anak ibuku, aku termasuk yang paling sering disuruh-suruh sama ibu. Meskipun aku anak tertua dan sudah punya dua anak, ibu enggak pernah lupa untuk memanggil namaku lebih dulu apabila membutuhkan bantuan. Aku suka jengkel kalo disuruh-suruh. Apalagi kalau aku sedang sibuk mengerjakan sesuatu tapi ibu masih saja menyuruhku untuk membantunya saat itu juga, padahal adik-adik (terutama yang cewek, yang sering berada di rumah bersama kami) sedang longgar dan mengerjakan pekerjaan yang enggak terlalu penting, misalnya baca buku, chatting atau sekedar dengerin musik.

Aku suka heran dengan hobi ibu yang satu itu. Sepertinya kalau ibu sedang membutuhkan bantuan, otomatis aja namaku yang pertama kali disebutnya. Faniiii, tolong ini. Faniiii, tolong itu. Sampai capek aku mendengarnya. Belum lagi kalau aku enggak beres ngerjainnya, bisa diomelinlah aku. Fiuuuh...

Tapi itu dulu, sekarang aku berusaha menikmatinya saja. Aku berusaha melakukan apapun yang aku kerjakan karena aku ingin melakukannya, dengan senang hati (aku tidak berani menyebutnya dengan ikhlas, karena aku tidak tahu apakah aku benar-benar ikhlas karena Allah atau tidak) dan bukan karena paksaan. Aku juga memutuskan untuk berhenti bertanya, mengapa aku, mengapa selalu aku yang disuruh-suruh. Jangan dipikir gampang ya, susah banget lho. Penuh perjuangan dan sampai sekarang pun aku masih berjuang. Aku berusaha meyakini bahwa apapun yang kita lakukan sebenarnya adalah untuk diri kita sendiri, walaupun tampaknya sangat menguntungkan bagi orang lain dan hampir tidak ada pengaruhnya untuk kita. Tapi bukankah itu artinya juga kita bermanfaat bagi orang lain?

Mungkin itulah jawaban dari doa-doaku selama ini, agar aku jadi orang (hartaku, tenagaku, hidupku) yang bermanfaat bagi orang lain. Mungkin karena aku belum punya cukup harta, jadilah tenagaku yang bermanfaat untuk membantu ibuku. Semoga suatu hari nanti, tidak cuma ibu dan keluargaku yang mendapatkan manfaat dari kehadiranku di muka bumi, tapi juga orang-orang yang membutuhkan lainnya. Aamiin. Lagipula rasanya aku tidak pantas menolak apapun permintaan ibu (selama tidak melanggar perintah agama dan aku mampu mengerjakannya) mengingat jasa-jasa beliau sejak aku berada didalam kandungan hingga setua ini. Semoga apa yang aku lakukan bisa membahagiakan beliau (walaupun aku tahu aku tidak akan mampu membalas jasa-jasanya) dan menghapuskan dosa-dosaku kepada kepada ayah & ibu (when I was younger, aku berani sekali kepada orang tuaku terutama ibu). Malah sekarang kalau disuruh-suruh aku anggap hal itu adalah suatu kehormatan, karena setelah aku tanyakan pada ibu, kenapa ibu selalu saja memanggil namaku ketika beliau sedang memerlukan bantuan, beliau bilang karena hanya aku yang selalu mau mengerjakan apapun yang beliau suruh, enggak pake protes, apalagi menolak (walaupun kadang suka lambat, sebentar-sebentar mulu, hehe...).

Tapi bukan berarti aku enggak pernah jengkel lagi lho kalau disuruh-suruh, hanya aku tidak lagi menyampaikannya secara verbal, mungkin raut mukaku saja yang akan sedikit kelihatan asem, hehe... Aku merasa dalam beberapa hal aku tidak perlu lagi disuruh-suruh. Aku sudah dewasa, sudah berkeluarga, aku tahu apa yang harus aku lakukan. Kalau enggak setuju dengan apa yang aku lakukan, aku bisa kok dikasih tahu atau diajak ngomong dengan baik-baik. Enggak perlu diomelin lagi. Capek deh...

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...