Skip to main content

Obama Mania

Semalam, bersama dengan hampir setengah penduduk bumi (lebay yach? hihi), aku ikut ambil bagian untuk menjadi saksi sejarah pelantikan presiden Amerika yang ke-44, Barrack Husein Obama. Hampir seluruh stasiun TV, bahkan aku berani bilang seluruh stasiun televisi swasta Nasional menayangkan acara pelantikan presiden berkulit hitam pertama di Amerika tersebut secara live, tentu saja dengan tidak meninggalkan ciri khas masing-masing stasiun televisi.

Asyiknya, justru karena kemasan yang berbeda-beda itulah, aku jadi punya prespektif yang luas berdasarkan komentar dari para tokoh-tokoh nasional yang menjadi bintang tamu di masing-masing televisi swasta saat itu. Mulai dari topik yang cukup berat hingga sekedar masalah fashion. Buat aku pribadi sih, pelantikan Obama ini bisa dibilang cukup mewah, elegan dan yang pasti enak dilihatlah alias menghibur, khas Amerika. Yang bikin aku merinding sebenarnya bukan Obamanya, tapi kebanggaan rakyat Amerika kepada commader in chief-nya. Aku seperti bisa merasakan energi yang besar dari penduduk Amerika yang mendambakan perubahan besar dan tentunya mempunyai harapan yang besar kepada pemimpin baru mereka. Kapan ya rakyat Indonesia bisa merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan orang Amerika saat ini? Merasa bangga pada pemimpinnya dan pemimpinnya pantas untuk dibanggakan.

Dari kacamata awamku, yang menarik dari sosok Obama adalah keanekaragaman kultur dan budaya yang tumbuh dalam dirinya. Mungkin itulah yang membuat sebagian masyarakat dunia merasa ikut memilikinya. Sosoknya yang cerdas dan terbuka tentu saja semakin menarik perhatian anak-anak muda yang haus dan merindukan contoh serta tauladan yang baik ditengah dunia yang semakin carut marut. Kenyataan kulitnya yang hitam juga semakin menambah keyakinan dan kepercayaan diri penduduk kulit berwarna (itu sebenarnya sebutan dari orang-orang berkulit putih jaman dulu, jaman rasis masih menguasai bumi bahkan mungkin ada sebagian orang yang masih menggunakannya hingga saat ini) bahwa mereka tidak akan dinilai berdasarkan warna kulit tapi dari apa yang mereka kerjakan.

Aku dan adik-adik bahkan anak-anakku memang sudah terjangkit virus Obama mania sejak setahun yang lalu. Buat kami Obama adalah sosok yang menarik dan kami mencoba untuk mengambil sisi positif yang ada pada dirinya. Kenyataan bahwa dia orang yang sangat menghargai sejarah juga menjadi inspirasi buat aku pribadi. Bukankah sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang sangat menghargai sejarah. Mungkin kita harus belajar banyak dari Amerika tentang hal itu. Sudah berapa banyak kisah sejarah negeri ini yang diselewengkan, sudah berapa banyak peninggalan sejarah negeri ini yang hilang tidak berbekas, hingga kita apalagi anak cucu kita kelak, tidak mengenal sejarah berdirinya bangsa kita sendiri dan kita tidak mempunyai kebanggaan menjadi anak Indonesia karena kita kehilangan jati diri sebagai bangsa.

Aku tidak bermaksud untuk membanggakan Amerika, bahkan aku tidak merasa ikut memiliki walaupun sedikit berharap agar Obama membawa sedikit angin segar untuk mewujudkan perdamaian di dunia sebagai pemimpin sebuah negara besar. Aku hanya merasa kita wajib untuk banyak belajar siapapun dan dari bangsa manapun selama hal itu bisa menumbuhkan kebaikan pada diri kita dan bangsa kita. Nasib bangsa kita hanya akan ditentukan oleh tangan-tangan kita sendiri dan tangan Allah tentunya, bukan oleh tangan negara adikuasa (kata mereka sendirikan itu) sekaliber Amerika sekalipun.

Aku setuju dengan seorang pakar politik yang menyatakan bahwa kita, umat muslim sedunia, tidak usah mengharapkan perdamaian Timur Tengah di tangan Obama. Walaupun Obama mengatakan akan lebih terbuka pada dunia Islam. Tapi pada kasus Palestina dan Israel yang notabene adalah sekutu terdekat Amerika, sudah seharusnya Amerika tidak sekedar memandang bahwa Hamas adalah teroris semata. Untuk yang satu ini, kayaknya Mr. Obama mesti belajar sejarah lagi bagaimana awal mulanya terjadinya pertikaian antara Palestina dan Israel, hingga akhirnya Hamas harus melemparkan roketnya untuk menarik perhatian dunia bahwa ada sesuatu terjadi di Palestina.

Supaya enggak salah sasaran, bos (Obama). Yang teroris dan penjajah beneran (Israel) dijadiin temen, yang mempertahankan kedaulatan negeri sendiri malah mau disikat abis-abisan. Wis-wis. Jaman wis uedan temen, rek!

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...