Skip to main content

Cara Adek

Ketika tadi aku mencium kepalanya tiba-tiba dia melompat dan dengan tidak sengaja membuat bibirku yang seksi ini (:P) jadi tambah seksi alias bengkak. Adek tampak merasa begitu sangat bersalah dan berulang-ulang kali meminta maaf padaku. Sambil tiduran aku memeluk dan menenangkannya. Dengan tidak melepaskan bantal yang menutupi wajahnya (mungkin dia malu ya) dan dengan suara yang sedikit parau dia bertanya, "Kapan ke dokter?"

"Siapa yang ke dokter?" Aku balik bertanya, bingung.

"Mahal ngga dokternya?"

"Hah?" Aku masih nggak ngerti juga maksudnya.

"Itu..." Mengintip sedikit dan menunjuk bibirku yang monyong.

"Oooh... Ibu nggak perlu ke dokter, sayang." Aku mencoba menjawab dengan nada tenang berusaha mengurangi kegalauan yang tampak dari suaranya.

"Kenapa? Nanti ibu sakit."


"Udah nggak sakit lagi kok, adek berdoa ya sama Allah biar bibir ibu cepat sembuh."

"Aaaah..." Dari nadanya aku tahu dia kesal dan lalu dari balik bantal aku mendengarnya terisak. Ketika aku perlahan melepaskan pelukanku pun dia tidak merengek seperti biasanya. Aku tahu itu artinya dia ingin sendiri.

"Adek pengen sendiri ya? Ibu ke depan ya?" Tanyaku.

"Iya, adek pengen sendiri."

"Oke, cium ibu dulu baru nanti adek boleh di kamar sendiri."

Perlahan dibukanya bantal yang sedari tadi menutupi wajahnya, lalu mendaratkan sebentuk ciuman lembut di pipi kiriku lalu kembali tenggelam dalam bantal besar itu then I left him alone.

Adek is such a sensitive young man. Dibandingkan dengan kakaknya yang lebih lepas dan cuek ketika menghadapi suatu masalah, Adek lebih perasa. Aku menghormati cara-cara yang dipilihnya untuk menenangkan diri karena walaupun masih terbungkus dalam tubuh yang kecil, dia tetaplah manusia. Selama apa yang dilakukannya tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan tidak keluar dari norma agama dan kepatutan, anak-anak bebas-bebas saja mengekspresikan diri mereka.

I love you, handsome.
Wish I could hold you all the time :)

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...