Dua hari yang lalu saat menjelang tidur, aku mendengar suara isak tangis. Aku tahu dari mana suara itu berasal karena hanya satu orang yang membenamkan kepalanya ke dalam bantal. Berbicara dengan Adek diperlukan keahlian khusus, karena Adek tidak seekspresif Salma. Salma tipe orang yang terbuka, tidak ragu bercerita, memeluk, mencium dan mengungkapkan apa yang dia rasakan melalui media apapun, tulisan, gambar bahkan secara verbal sekalipun. Karakternya seperti yang aku berusaha encourage kepadanya sedari kecil, supaya menjadi pribadi yang berani, lepas dan mandiri. Kalau Adek sebenarnya aku seperti sedang berkaca dengan diriku sendiri, itulah mengapa aku tidak merasa kesulitan untuk menyentuhnya.
Ketika aku memeluknya dan dia membalas pelukanku, aku tahu dia siap bercerita tentang apa yang dia rasakan. "Kenapa Adek nangis, nak?" Adek tetap menangis tidak menjawab. Aku tahu aku harus memberinya sedikit waktu.
"Adek mengingat kesalahan-kesalahan adek," katanya sambil berbisik dan memelukku semakin erat. Dalam hati aku berpikir, kesalahan apa ya yang dilakukan anak sekecil ini. Hihihihi...
"Kalau boleh tahu, Adek mengingat kesalahan Adek yang mana?"
"Banyak, Adek susah ngomongnya." Jawabnya masih sambil terisak.
"Tau nggak, Adek? Setiap manusia pasti pernah berbuat salah. Tapi Allah itu Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Kalau Adek pernah berbuat salah, misalnya sama seseorang. Adek harus meminta maaf dulu sama orang itu, lalu Adek harus bertaubat, memohon ampun kepada Allah dan Adek harus berusaha untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama." Kataku panjang lebar. "Supaya Adek tenang, baca istighfar aja yang banyak ya..."
Eh, kok semalam dia nangis lagi.
"Kenapa Adek kok nangis lagi?" Tanyaku. "Masih mengingat kesalahan-kesalahan Adek?"
"Nggak!" Dia menggeleng sambil tetap menangis.
"Lalu kenapa, nak? Kalau Adek nangis, Ibu nggak tahu harus gimana. Kalau Adek cerita ke Ibu, mungkin Ibu bisa bantu..." Aku membujuknya.
"Ibu nggak mungkin bisa bantu." Waduh, masalah apaan sih ini?
"Ya udah, kalau menurut Adek Ibu nggak bisa bantu, paling tidak kalau Adek cerita sama ibu bisa sedikit meringankan beban di dada. Jadi lega gitu hatinya..."
Pelan-pelan dia beranjak ke arah tempat tidur lalu mengambil guling buluk kesayangannya, "Ini niiiih, guling Adek udah rusak, robek-robek. Adek mau ini dijahit biar isinya nggak keluar."
Gubrak, cuma masalah guling toh.
"Ooooh, kalau gitu besok kita beli jarum yah terus ibu akan coba untuk jahitin guling Adek." Harus aku akui jahit menjahit is not my thing :D
"Nggak mau, Adek udah pernah coba jahit sendiri tapi nggak bisa."
"Terus gimana dong?"
"Adek mau dijahitin Uti kalau kita ke Sidoarjo. Kalau kita kesana gulingnya dibawa ya..." Mukanya sudah mulai bersinar lagi.
Jauh amat barang cuma jahitin guling doang mesti nunggu pulang kampung dulu. Anak-anak, anak-anak... So unpredictable.
Comments
Post a Comment