Setiap malam sebelum tidur, aku selalu membiasakan anak-anak untuk membaca doa sebelum tidur, juga surat Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Naas, Al-Ikhlas 3x, ayat kursi, lalu membaca istighfar dan sholawat hingga mereka tertidur.
Entahlah kenapa hari itu, Taqee sepertinya lupa hafalan surat Al Falaqnya. Lalu aku menggodanya, "Waduh, Adek kok lupa surat Al Falaq. Nanti kalau udah gede nih, adek udah jadi ayah lalu anaknya mau baca surat Al-Falaq, gimana? Adek mau jawab apa? Maaf ya naaaak, ayah lupa bacaan surat Al Falaq."
Hahahahaha, anak-anakku tertawa.
"Malu dooooong..." Kata Kakak.
"Kalau Adek meninggal umur delapan tahun, gimana? Adek belum jadi ayah dong..." Pasti tak terduga nih Taqee pertanyaannya.
"Kalau Adek meninggal umur 8, nanti Adek ketemu Allah duluan. Nggak ketemu Ibu deh, tapi insyaAllah nanti kita bertemu lagi ya di surga. Aamiin... Berdoa sama-sama." Kataku sambil memeluknya.
"Nggak mau ah kalau Adek nggak ketemu ibu. Makanya Adek berdoa, kalau Adek meninggal, besok Ibu yang meninggal, terus Kakaaaak..."
"Iya Kakak juga berdoa begitu," Salma menimpali. "Terus Utiii, Abaaaah, Tante Kikiiii, Oom Fariz,..." Yang mereka sebutkan keluarga yang di Sidoarjo semua, ayah mereka sendiri bahkan tak disebut *haduuuuh*.
Aku tersenyum saja mendengar celotehan mereka yang sedikit menyeramkan itu, hehehe... Tapi yah itulah rasa sayang mereka, walaupun kami tinggal berjauhan dengan keluarga yang di Sidoarjo tapi sepertinya bathin kami tetap nyambung.
Pelajarannya, tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang yang tulus. Kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang atau kemewahan, hanya hati dengan hati yang bisa merasakannya. Rasa sayang atau cinta juga menjadi tidak berarti walaupun diungkapkan secara berulang-ulang jika tidak diwujudkan dalam sikap dan perbuatan. Orang-orang yang mengatakan cinta tapi menyakiti itu BOHONG, don't trust them.
Entahlah kenapa hari itu, Taqee sepertinya lupa hafalan surat Al Falaqnya. Lalu aku menggodanya, "Waduh, Adek kok lupa surat Al Falaq. Nanti kalau udah gede nih, adek udah jadi ayah lalu anaknya mau baca surat Al-Falaq, gimana? Adek mau jawab apa? Maaf ya naaaak, ayah lupa bacaan surat Al Falaq."
Hahahahaha, anak-anakku tertawa."Malu dooooong..." Kata Kakak.
"Kalau Adek meninggal umur delapan tahun, gimana? Adek belum jadi ayah dong..." Pasti tak terduga nih Taqee pertanyaannya.
"Kalau Adek meninggal umur 8, nanti Adek ketemu Allah duluan. Nggak ketemu Ibu deh, tapi insyaAllah nanti kita bertemu lagi ya di surga. Aamiin... Berdoa sama-sama." Kataku sambil memeluknya.
"Nggak mau ah kalau Adek nggak ketemu ibu. Makanya Adek berdoa, kalau Adek meninggal, besok Ibu yang meninggal, terus Kakaaaak..."
"Iya Kakak juga berdoa begitu," Salma menimpali. "Terus Utiii, Abaaaah, Tante Kikiiii, Oom Fariz,..." Yang mereka sebutkan keluarga yang di Sidoarjo semua, ayah mereka sendiri bahkan tak disebut *haduuuuh*.
Aku tersenyum saja mendengar celotehan mereka yang sedikit menyeramkan itu, hehehe... Tapi yah itulah rasa sayang mereka, walaupun kami tinggal berjauhan dengan keluarga yang di Sidoarjo tapi sepertinya bathin kami tetap nyambung.
Pelajarannya, tidak ada yang bisa mengalahkan kasih sayang yang tulus. Kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang atau kemewahan, hanya hati dengan hati yang bisa merasakannya. Rasa sayang atau cinta juga menjadi tidak berarti walaupun diungkapkan secara berulang-ulang jika tidak diwujudkan dalam sikap dan perbuatan. Orang-orang yang mengatakan cinta tapi menyakiti itu BOHONG, don't trust them.
Comments
Post a Comment