Skip to main content

H I D U P


Hidup sering kali berjalan tidak seperti yang kita harapkan, tetapi pada akhirnya hasilnya tidak selalu buruk. Diakhir segala peristiwa kita akan selalu menemukan kebaikan-kebaikan yang berujung pada keindahan-keindahan akan rencana Allah untuk hidup kita, tentu saja jika kita mampu mengambil hikmah dan pelajarannya.

I was married in young age, when I was still dumb and stupid. Ketika memiliki Kakak, rasanya seperti anak-anak yang punya anak. Kedengerannya lucu, tetapi pada kenyataannya ya nggak lucu-lucu amat. Memiliki anak itu merupakan tanggung jawab yang luar biasa besar. Tetapi Alhamdulillah, seluruh keluarga selalu mendampingi, and they still have my back till now.
Ibu merasa mata ibu mulai terbuka ketika berumah tangga. I used to live in a bubble, dalam perlindungan dan kasih sayang yang tulus dari Abah dan Uti dimana semua kebutuhan sudah terbiasa terpenuhi dengan baik. Lalu ketika berumah tangga, wow it was way different than I thought. Suamiku bukan ayahku, yang begitu sabar memperlakukan aku. Mungkin itu membuat ibu sedikit shock (eh banyak shock ding, hehe). Mungkin juga waktu itu ayah dan ibu sama-sama masih muda, kami sama-sama masih meraba-raba dan belajar bagaimana sih berumah tangga itu, masih mencari-cari pola terbaik untuk rumah tangga kami. Tetapi mungkin juga waktu itu ibu terlalu banyak berharap. Kebanyakan nonton film Disney, setelah kita bertemu dengan our prince lalu kita akan hidup bahagia selamanya, live happily ever after, instead life doesn’t work that way. Tetapi sebenarnya ibu hanya ingin dibimbing, jika melakukan kesalahan ibu ingin dinasehati dengan baik, dan diperlakukan dengan lembut.

Ibu tidak akan menceritakan kejelekan ayah kalian, karena ibu juga mempunyai banyak sekali kekurangan. Andai saja kami dulu lebih bisa saling terbuka, saling berbagi, saling jujur dan lebih bersahabat satu sama lain, mungkin it will be a different story for our family. But it was already tough from the beginning dan ibu merasa kami berdua selalu berada dalam dua dimensi yang berbeda, we’re two completely different person who loves each other. 

I used to love your dad like crazy, bahkan rasanya cinta ibu kepada Ayah mengalahkan cinta ibu kepada Abah dan Uti. Bahkan dulu ibu lebih takut melanggar perintah ayah kalian dibandingkan melanggar perintah Allah. And then Allah showed me that the person I loved is just a human being like myself, he has flaws yang ibu bahkan tidak menyadari bahwa itu adalah flaws karena cinta yang begitu besar kepada ayah kalian. 

Dengan berjalannya waktu, dengan banyaknya benturan, banyaknya pengalaman, banyaknya peristiwa yang terjadi dalam kehidupan berumah tangga, ketika kedewasaan dan kesadaran perlahan ditumbuhkan oleh Allah, ibu mulai belajar untuk menerima diri sendiri-sendiri. Belajar untuk menerima ketidak sempurnaan diri, ketidak sempurnaan suami, ketidak sempurnaan hidup kami, hidup kita. Ibu belajar untuk set up my limit. Sebagai orang dewasa ibu belajar untuk berani mengambil resiko dan bertanggung jawab atas semua pilihan yang sudah ibu ambil. Ibu belajar untuk lebih berani berbicara, lebih terbuka mengatakan apa yang ibu rasakan, apa yang ibu inginkan, apa yang ibu harapkan. Mungkin perubahan itu yang membuat ayah kalian kaget, karena sebelumnya ibu lebih sering diam dan menerima. Speak up bukan berarti melawan, tetapi kalau bukan kita yang stand up for our self, siapa lagi? Because love is not just about hug and kisses, tetapi juga tentang penghormatan, kesetiaan, dan tanggung jawab.

Ibu juga belajar untuk ‘tega’ dalam membuat keputusan, belajar bahwa untuk mengambil sebuah keputusan haruslah karena itu adalah hal terbaik yang harus dilakukan, bukan karena tidak enak dengan orang lain, bukan juga karena untuk kebaikan anak-anak, dll. Karena kebahagiaan anak-anak adalah ketika melihat ibunya bahagia. Paling tidak itulah yang berlaku pada kalian berdua. 

Tetapi yang jelas melalui sebuah pernikahan ibu merasa sedang dididik langsung oleh Allah, dengan keras. Ibu dipaksa untuk harus kuat dan mandiri, no more wining, no more crying, habis mau bagaimana lagi there was no other choice. Ibu tidak tahu apa yang akan terjadi pada rumah tangga kami, pada keluarga kita dimasa depan nanti, tetapi apapun itu ibu berharap yang terbaik dari Allah. Yang paling Allah ridho, yang paling kecil mudhorotnya, yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya, yang membuat kita semua hidup bahagia dan tenang, ibu, ayah, anak-anak, dan seluruh keluarga. 

Pelajarannya, orang-orang yang kita cintai suatu hari kita pasti akan kehilangan mereka, mereka akan pergi, hidup atau mati. And you know what, it hurts, so bad. Tetapi apa daya kita sebagai manusia, jika Allah sudah menetapkan sesuatu, tidak ada satupun yang dapat menghalangi, sebesar apapun cinta dan kesungguhan yang kita berikan. Jadi kita jangan ngarep Allah aja yang ridho sama kita, kita juga harus ridho pada apapun ketentuan hidup dari Allah.

 Kebahagiaan, nikmatilah sepenuhnya dengan kesederhaaan dan kerendahan hati. Penderitaan, sakit hati, nikmati juga, it won’t last for long. Tidak ada kebahagiaan yang abadi dan tidak ada penderitaan yang abadi, semuanya akan datang silih berganti. Sikapi semua dengan biasa saja, tenang aja, kalem aja, disyukuri aja. 

Hidup adalah sebuah perjalanan, kita tidak pernah tahu bagaimana endingnya hingga kita menghadap Allah nanti. Apapun permasalahannya, apapun tantangannya, ingatlah untuk tetap gunakan sikap terbaik kalian. Jangan pernah sombong kepada siapapun juga. And don’t forget to stay strong, keep believe in Allah. Everything is gonna be alright. #xoxo

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...