Skip to main content

Goob Bye, Mikey


Semalam (22 Desember 2016) bisa dibilang kita mengalami peristiwa yang baru dalam hidup kita, cukup mengejutkan, menegangkan, menyedihkan, tapi disisi lain juga melegakan. Mikey yang sudah hampir dua tahun tinggal bersama kita, sejak dia kecil, akhirnya pergi meninggalkan kita semua. Kalian masih ingat nggak ya kira-kira jika kalian membaca blog ibu ini suatu hari nanti. Pagi-pagi selepas subuh dengan mata yang masih pada bengkak, kita bertiga bekerja sama membuat lubang yang seukuran dengan badan Mikey dibawah pohon dibelakang rumah. Lalu ibu meletakkan badan Mikey yang sudah kaku itu dan menguburkannya disana. Lalu kita membaca doa, semoga Allah memaafkan apabila kita sudah lalai dalam merawat Mikey. Kalau Mikey mah nggak perlu didoain yah, karena insyaAllah dia sudah ada surganya sendiri.

Mikey mungkin hanyalah seekor kucing, tapi he's not just a cat for us, he's been our family. Dia tidur di kasur sama-sama kita, main-main, ibu suka ngambilin koreng bekas dia berantem sama kucing lain (jorok banget ya? :D), kadang kita sampai kebingungan kalau Mikey sampai dua hari nggak pulang. Yah, gitu deh pokoknya. Seru...

Seminggu sebelum mati, Mikey sempat menangkap tikus dan memain-mainkannya sampai tikus itu mati. Kata Adek, itu tanda kasih sayang kucing kepada kita. Mempersembahkan tikus kepada tuannya. Itu yang Adek pernah baca dari buku, katanya. Tapi karena jijik, saat lengah ibu angkat saja Mikey lalu ibu bawa ke kamar mandi untuk dimandiin oleh Kakak, biar bersih. Dan si tikus sama Adek dibungkus plastik, lalu dibuang ke dalam sampah. MasyaAllah, itu pertama kalinya ibu melihat Adek seperti laki-laki, nggak takut sama tikus, hehe...

Setelah beberapa hari kemudian, kita melihat perubahan pada Mikey, matanya sayu, tiduran terus seperti lemas, makanannya tidak disentuh sama sekali, lalu malamnya dia sempat poop sembarangan dilantai di depan kamar mandi, seperti tidak kuat berjalan. Akhirnya setelah dibersihkan, kita bungkus dia dengan selimut, supaya dia merasa lebih nyaman beristirahat. Mikey yang biasanya paling tidak suka diselimutin, kali itu sepertinya pasrah saja.

Keesokan harinya, Mikey menghilang lagi. Kita yang biasanya santai, kali ini tentu saja khawatir karena Mikey sedang sakit. Kita tidak mau sesuatu terjadi pada Mikey. Sehari, dua hari, sampai kita cari kemana-mana, Mikey belum muncul juga. Pada Kamis pagi, saaat membuka pintu rumah belakang. Mikey sudah ada disana, diam, kurus, dekil. Perubahan yang drastis, sedih kita melihatnya. Kita coba memberikan dia makan dan minum, semua tidak disentuhnya. Dia berjalan tertatih-tatih, lalu diam tertidur, begitu terus berpindah-pindah tempat. Kita sampai harus berkali-kali memaksanya minum Milagros supaya ada sedikit air didalam tubuhnya, dia sepertinya sudah tidak sanggup lagi meronta. Hanya pasrah saja. Nafasnya bau.

Uti bilang, "Sepertinya Mikey akan mati." Kami semua pun merasa demikian.

Malam sebelum tidur, ibu menyuruh anak-anak untuk membawa Mikey ke dalam rumah. Supaya dia merasa hangat. Tiba-tiba anak-anak berteriak, "Ibu, Mikey kejang-kejang!"

Aku segera mengambil selimut dan menutupi badannya dengan selimut. Mikey terdiam, dengan nafas tersengal-sengal, berat, dan bau. Aku elus-elus badannya, membaca sholawat dan doa, semoga Allah memaafkan kita apabila pernah menyakitinya secara sengaja ataupun tidak, memaafkan kita apabila telah lalai merawatnya. Anak-anak hanya menangis semakin keras.

Semakin lama, nafasnya semakin ringan. Lalu menghilang. Kita terdiam didepan jasadnya, cukup lama seakan terhipnotis. Ketika kesadaran kembali datang, "Mikey, mikey!" Ibu memanggilnya. "Sepertinya dia sudah mati."

"Mikey.......!" Adek berteriak menangis sambil memeluk ibu. Kakak juga menangis.

Dalam Islam tidak ada syariat untuk menguburkan hewan layaknya manusia, tetapi sebagai bagian dari keluarga Ibu hanya ingin memberikan penghormatan terakhir kepada makhluk Allah yang sudah dititipkan kepada kita itu, yang telah menjadi bagian dari kebahagiaan kita selama ini. Ibu mengambil kain putih, Ibu letakkan badan Mikey yang sudah lemas dan membungkusnya dengan bekas mukena kakak yang sudah tidak dipakai untuk dikuburkan besok paginya. Sungguh rasanya aneh, melihat kucing yang biasanya manja, yang setiap sholat selalu saja ada dan duduk atau tiduran ditempat sujud, sehingga kita harus miring-miring atau melewati badannya saat akan sujud, yang suka berdiri menutupi monitor saat ibu saat sedang serius di depan komputer, atau malam-malam menemani ibu begadang sambil tiduran disamping PC, hanya diam, pasrah, tak berdaya.

We're gonna miss you, Mikey. We miss you already. Maafkan jika kami pernah menyakitimu dan lalai merawatmu. Terima kasih ya Allah, untuk waktu yang singkat dan membahagiakan bersama Mikey. We love you, Mikey :-*

"Ibu, setelah ini kita boleh punya kucing lagi nggak?" Adek merajuk.

"Sepertinya enggak dulu, dek."

"Kenapa?"

"Kita sudah pernah kehilangan dua kucing, sepertinya itu cukup. Ibu nggak mau nguburin kucing lagi. Ibu belum siap."

Sungguh berat kehilangan sesuatu yang kita cintai, melihatnya mati dan menguburkannya sendiri. Maybe next ya, nak. InsyaAllah...

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...