Skip to main content

Rukun Iman

Di suatu malam, selepas sholat maghrib.

"Hayo, siapa yang masih ingat Rukun Islam ada berapa dan apa saja?"

"Kakak! Kakak!" Kakak mengangkat jari telunjuknya.

"Oke, kakak!"

"Ada lima. Syahadat, sholat, puasa, zakat dan naik haji, bila mampu."

"Iya, benar! Sekarang Rukun Iman, siapa yang tahu?"

"Kakak! Kakak!"

"Kakak terus, Adek dooong!" Adek mah gitu orangnya, cuek aja coba. "Ayo Adek yang jawab!"

"Mmmm, iman kepada Allah, Rasulullah..."

"Rasul-rasul Allah!" Kakak membetulkan.

"Iyaaa, itu... Malaikat."

"Malaikat-malaikat Allah!" Kakak membetulkan lagi.

"Iyaaa, itu... Kitab Allah."

"Kitab-kitab Allah," giliran aku yang membetulkan.

"Iyaaa, itu... Hari Kiamat, terus iman kepada orang tua." Katanya sambil tersenyum melihatku.

"Kok iman kepada orang tua sih?" Si Kakak protes.

"Iyaaa, kan Adek mau beriman sama ibu." Jawab Adek sambil memelukku.

"Ih, adek mesti gitu deh. Apa coba Rukun Iman nya? Kurang satu..." Kakak maksa.

"Adek nggak tahu, adek lupa. Kan adek mau beriman sama ibu aja."

"Ih, qodo dan qodar Adeeeek...!" Si kakak manyun.

"Emang qodo dan qodar apaan?"

"Kakak tahu, tapi gimana coba jelasinnya ke Adek, kakak bingung."

"Bilang aja nggak tahu."

"Tahu...!"

"Nggak tahu!"

"Tahu!"

Hmmm, malah jadi berantem ^_^

posted from Bloggeroid

Comments

Popular posts from this blog

Adegan Ciuman

Entah tadi sedang nonton apa, tapi yang jelas ada sekilas adegan ciuman. Adek langsung berteriak dan mengalihkan pandangannya pada kakak. "Lho, bu! Emang kakak sekarang sudah boleh nonton adegan ciuman ya? Kok kakak nggak nutup mata (waktu ada adegan ciuman)?" Hahaha, ibu dan kakak langsung tertawa. So cute! Walaupun badannya sudah lebih tinggi dari ibu, adek ternyata masih kecil ya... posted from Bloggeroid

Less Money BIG Happy

Membahagiakan anak-anak adalah mutlak adanya. Sebagai orang tua tentu saja aku ingin memberikan semua hal terbaik untuk kedua anakku. Awalnya tampak berat karena kebahagiaan selalu saja identik dengan uang. Padahal sebagai ibu rumah tangga, aku harus pandai-pandai mengatur keuangan setiap bulannya agar tidak besar pasak dari pada tiang. Ternyata setelah dijalani, tidak sesukar yang dibayangkan. Alhamdulillah, aku bersyukur karena anak-anak adalah makhluk yang paling mudah untuk dibahagiakan. Yuk, kita intip lagi bagaimana anak-anakku menjalankan tugasnya (belajar, bermain, bersenang-senang & bahagia).

Berumah tangga = Berjuang

Hampir 7 tahun usia pernikahanku dan suamiku, serta sebelumnya sempat dua setengah tahun pacaran, rupanya tidak membuatku benar-benar mengenalnya dengan baik. Justru banyak hal baru yang terkadang cukup mengejutkan aku temui pada dirinya. Sejak menikah hingga beberapa waktu lalu, suamiku seringkali bertanya mengapa aku mencintainya. Dan sungguh, aku enggak tahu kenapa. Aku hanya mencintainya tanpa pernah tahu apa sebabnya. Kalau aku jawab karena dia ganteng, aku boong dong. Kalau karena kegantengan doang, dulu banyak juga cowok-cowok yang lebih ganteng yang naksir sama aku lho (narsis banget ya, hihihi). Lalu kalau aku jawab karena dia kaya, enggak mungkin. Semua orang juga tahu bagaimana awal kehidupan rumah tangga kami hingga saat ini. Dan kalau aku bilang karena dia baik, sesekali aku merasa dia tidak terlalu baik juga padaku, hehe... (I love you, peace!) Tapi sekarang aku tahu jawabannya mengapa Allah menakdirkan aku mencintainya. Karena dengan mencintai dan menikahinya aku mend...